BAHAN-BAHAN PENGAWET YANG DIIZINKAN:
1. asam benzoat,
2. asam propionat,
3. asam sorbat,
4. sulfur dioksida,
5. etil p-hidroksi benzoat,
6. kalium benzoat,
7. kalium sulfit,
8. kalium bisulfit,
9. kalium nitrat,
10. kalium nitrit,
11. kalium propionat,
12. kalium sorbat,
13. kalsium propionat,
14. kalsium sorbat,
15. kalsium benzoat,
16. natrium benzoat,
17. metil-p-hidroksi benzoat,
18. natrium sulfit,
19. natrium bisulfit,
20. natirum metabisulfit,
21. natrium nitrat,
22. natrium nitrit,
23. natrium propionat,
24. nisin, dan
25. propil-p-hidroksi benzoat.
BAHAN PENGAWET YANG DIIZINKAN
NAMUN KURANG AMAN
B
eberapa zat pengawet berikut diindikasikan menimbulkan efek negatif
jika dikonsumsi oleh individu tertentu, semisal yang alergi atau
digunakan secara berlebihan.
* Kalsium
Benzoat
Bahan pengawet ini dapat
menghambat pertumbuhan bakteri penghasil toksin (racun), bakteri spora
dan bakteri bukan pembusuk. Senyawa ini dapat mempengaruhi rasa. Bahan
makanan atau minuman yang diberi benzoat dapat memberikan kesan aroma
fenol, yaitu seperti aroma obat cair. Asam benzoat digunakan untuk
mengawetkan minuman ringan, minuman anggur, saus sari buah, sirup, dan
ikan asin. Bahan ini bisa menyebabkan dampak negatif pada penderita
asma dan bagi orang yang peka terhadap aspirin. Kalsium Benzoat
bisa memicu terjadinya serangan asma.
* Sulfur
Dioksida (SO2)
Bahan pengawet ini juga banyak
ditambahkan pada sari buah, buah kering, kacang kering, sirup dan acar.
Meski bermanfaat, penambahan bahan pengawet tersebut berisiko
menyebabkan perlukaaan lambung, mempercepat serangan asma, mutasi
genetik, kanker dan alergi.
* Kalium
nitrit
Kalium nitrit berwarna putih
atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air. Bahan ini dapat
menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan ikan dalam waktu yang
singkat. Sering digunakan pada daging yang telah dilayukan untuk
mempertahankan warna merah agar tampak selalu segar, semisal daging
kornet.
Jumlah nitrit yang ditambahkan
biasanya 0,1% atau 1 gram/kg bahan yang diawetkan. Untuk nitrat 0,2%
atau 2 gram/kg bahan. Bila lebih dari jumlah tersebut bisa menyebabkan
keracunan, selain dapat mempengaruhi kemampuan sel darah membawa
oksigen ke berbagai organ tubuh, menyebabkan kesulitan bernapas, sakit
kepala, anemia, radang ginjal, dan muntah-muntah.
* Kalsium
Propionat/Natrium Propionat
Keduanya yang termasuk dalam
golongan asam propionat sering digunakan untuk mencegah
tumbuhnya jamur atau kapang. Bahan pengawet ini biasanya digunakan
untuk produk roti dan tepung. Untuk bahan tepung terigu, dosis maksimum
yang disarankan adalah 0,32% atau 3,2 gram/kg bahan. Sedangkan untuk
makanan berbahan keju, dosis maksimumnya adalah 0,3% atau 3 gram/kg
bahan. Penggunaaan melebihi angka maksimum tersebut bisa menyebabkan
migren, kelelahan, dan kesulitan tidur.
* Natrium
Metasulfat
Sama dengan Kalsium dan
Natrium Propionat, Natrium Metasulfat juga sering digunakan pada produk
roti dan tepung. Bahan pengawet ini diduga bisa menyebabkan alergi pada
kulit.
* Asam Sorbat
Beberapa produk beraroma
jeruk, berbahan keju, salad, buah dan produk minuman kerap ditambahkan
asam sorbat. Meskipun aman dalam konsentrasi tinggi, asam ini bisa
membuat perlukaan di kulit. Batas maksimum penggunaan asam sorbat
(mg/l) dalam makanan berturut-turut adalah sari buah 400; sari buah
pekat 2100; squash 800; sirup 800; minuman bersoda 400.
BAHAN PENGAWET YANG TIDAK AMAN
* Natamysin
Bahan yang kerap digunakan
pada produk daging dan keju ini, bisa menyebabkan mual, muntah, tidak
nafsu makan, diare dan perlukaan kulit.
* Kalium
Asetat
Makanan yang asam umumnya
ditambahi bahan pengawet ini. Padahal bahan pengawet ini diduga bisa
menyebabkan rusaknya fungsi ginjal.
* Butil
Hidroksi Anisol (BHA)
Biasanya terdapat pada daging
babi dan sosisnya, minyak sayur, shortening, keripik kentang,
pizza, dan teh instan. Bahan pengawet jenis ini diduga bisa menyebabkan
penyakit hati dan memicu kanker.
PERHATIKAN JUGA BAHAYA LAIN
N
dung mengingatkan, orang tua sebaiknya menganggap zat pewarna, zat
pengawet, dan penyedap rasa saja yang membahayakan. Soalnya, tindakan
yang dilakukan terhadap makanan juga bisa membahayakan. "Orang yang
membakar makanan sampai gosong, misalnya, menganggap tidak ada masalah.
Padahal, makanan yang gosong tersebut bisa memicu kanker," ungkapnya.
Botol plastik minuman air
dalam kemasan yang dipakai ulang secara terus-menerus juga tidaklah
aman. Sebab bahan plastik botol yang terbuat polyethylene
terephthalate tersebut mengandung zat-zat karsinogen yang memicu
timbulnya kanker. Kebiasaan memakai ulang dapat membuat lapisan plastik
rusak dan zat karsinogennya melarut dalam air minum. Akibatnya, risiko
terkena kanker pun semakin besar. Itulah sebabnya, konsumen hendaknya
betul-betul mematuhi instruksi yang tertera pada botol tersebut. "Jika
memang botol tersebut untuk sekali pakai, ya jangan dipakai
berulang-ulang dong," katanya.
Selain itu zat pemicu kanker
juga ditemukan pada makanan-makanan dengan pengolahan yang tidak tepat.
Contohnya, pemanasan dengan suhu tinggi dalam jangka waktu lama bisa
menghasilkan senyawa yang disebut trans-fatty acid (TFA). "Cara
menggoreng dengan menggunakan minyak goreng yang sama secara berulang
kali pun," tutur Ndung, "bisa menimbulkan radikal bebas dalam tubuh."
Jangan abaikan pula
penggunaan pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin. Walaupun
pemakaiannya diizinkan, FDA (Food and Drug Association) tetap
memberikan batasan-batasan. Untuk siklamat, penggunaan maksimalnya
adalah 11mg/kg berat badan/hari, sedangkan sakarin 5 mg/kg berat
badan/hari. Jika dikonsumsi secara berlebihan, kedua senyawa ini bisa
memicu kanker kandung kemih.
TIPS AMAN MEMILIH MAKANAN:
Apakah makanan yang
dikonsumsi aman? Ndung memberikan sejumlah tip untuk menjadi acuan buat
orang tua:
* Amati apakah makanan
tersebut berwarna mencolok atau jauh berbeda dari warna aslinya. Snack,
kerupuk, mi, es krim yang berwarna terlalu mencolok ada kemungkinan
telah ditambahi zat pewarna yang tidak aman. Demikian juga dengan warna
daging sapi olahan yang warnanya tetap merah, sama dengan daging
segarnya.
* Jangan lupa cicipi juga
rasanya. Biasanya lidah kita juga cukup jeli membedakan mana makanan
yang aman dan mana yang tidak. Makanan yang tidak aman umumnya berasa
tajam, semisal sangat gurih dan membuat lidah bergetar.
* Perhatikan juga kualitas
makanan tersebut, apakah masih segar, atau malah sudah berjamur yang
bisa menyebabkan keracunan. Makanan yang sudah berjamur menandakan
proses pengawetan tidak berjalan sempurna, atau makanan tersebut sudah
kedaluwarsa.
* Baui juga aromanya. Bau apek
atau tengik pertanda makanan tersebut sudah rusak atau terkontaminasi
oleh mikroorganisme.
* Amati komposisinya. Bacalah
dengan teliti adakah kandungan bahan-bahan makanan tambahan yang
berbahaya yang bisa merusak kesehatan.
* Ingat juga, kriteria aman
itu bervariasi. Aman buat satu orang belum tentu aman buat yang
lainnya. Bisa saja pada anak tertentu bahan pengawet ini menimbulkan
reaksi alergi. Tentu saja reaksi semacam ini tidak akan muncul jika
konsumennya tidak memiliki riwayat alergi.
Ndung menyontohkan pengawet
Kalsium Benzoat pada produk minuman ringan yang amat digandrungi
anak-anak. "Bagi anak-anak yang sehat mungkin tidak berdampak apa-apa,
tapi bagi anak-anak yang mengidap asma, kandungan bahan pengawet ini
bisa membuat asmanya kambuh."
* Kalaupun hendak membeli
makanan impor, usahakan produknya telah terdaftar di Badan POM
(Pengawas Obat dan Makanan) yang bisa dicermati dalam label yang
tertera di kemasannya.
SADAR S, SEI
|
Senin, 13 Oktober 2014
B AHAN PENGAWET MKANAN DAN MINUMAN
Langganan:
Komentar (Atom)